Wayang onthel karya para seniman muda Kota Magelang merupakan kreasi baru seni pewayangan dengan bahan berasal dari onderdil sepeda kuno. Tujuan utama wayang onthel yang dikomendani oleh Pak Bambang Nunggang Jaran adalah menyampaikan pesan-pesan moral dan edukasi dengan cara yang bersifat menghibur dan mudah dimengerti. Itulah sebabnya maka episode-episode pertunjukan diberi judul seperti : “Gerakan Anti Narkoba”, “Kampanye Bersepeda”, “Ayo Ngonthel”. Seni wayang onthel ini merupakan buah karya orisinil yang terlahir dari ide kreatif anggota komunitas sepeda kuno yang terhimpun dalam “VOC”( Velocipede Old Classic ) Magelang.
Wayang onthel merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap wayang dengan bentuk properti wayang bukan seperti pada umumnya, dengan bentuk dan bahan berasal dari onderdil sepeda kuno. Musik pengiring terdiri atas perpaduan antara gamelan yakni kendang, saron, demung, dan gong dengan alat yang dibuat dari onderdil atau peralatan sepeda antara lain kunci ring, kunci pas, bel sepeda, dan jeruji.Kombinasi alat musik tersebut menghasilkan alunan nada yang terdengar unik dan menarik. Pentas wayang onthel bertujuan menyampaikan pesan moral atau layanan masyarakat yang bersifat edukasi dengan cara menghibur dan mudah dimengerti audiens. Wayang onthel dari komunitas Old Bikers VOC Magelang itu pernah tampil pada Kongres Sepeda Indonesia pada 16-17 Juli 2010 di Jakarta. Pada pentas di kawasan Pecinan dengan judul "Tiga Sambikala" tersebut didukung oleh 20 personel dengan menyuguhkan beberapa lagu gubahan antara lain Wayang Onthel, Goyang Jakarta, Rewel, Ayo Bersepeda, Ilir-Ilir, dan Sayonara.
Wayang Onthel merupakan gubahan dari lagu Betawi berjudul Ondel-Ondel. Lagu Prau Layar digubah menjadi Ayo Bersepeda. Lagu-lagu daerah tersebut digubah dengan diganti liriknya menjadi lagu yang bertema tentang dunia sepeda. Pentas "Wayang Onthel on the Ex Bike Steet" itu sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap hilangnya jalur lambat di sepanjang Jalan Pemuda Magelang.







